CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING 3


C.     Penerapan Contextual Teaching and Learning Dalam Pembelajaran di Kelas
Kalau berbicara tentang penerapan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran di kelas, maka sebenarnya adalah membicarakan tentang penerapan komponen Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran di kelas. Penerapan komponen Contextual Teaching and Learning tersebut di kelas adalah sebagai berikut :
1.         Constructivism (konstruktivisme)
Untuk menerapkan komponen ini dikelas, siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan idea-idea. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan di hati mereka sendiri. Esensi dari teori kontruksi ini adalah ide bahwa siswa harus aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menemukan dan mentransformasikan suatu informasi komplek ke situasi lain. [1]
Dengan dasar ini, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkontruksi” bukan “menerima” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru, tugas guru hanya menfasilitasi proses tersebut.
Pengetahuan tersebut, tumbuh berkembangan melalui pengalaman, pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru.
Pada umumnya cara merealisasikan komponen ini dalam pembelajaran sehari-hari yaitu dengan merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemontrasikan, menciptakan ide dan sebagainya.
2.         Inquiry (menemukan)
Dalam rangka merealisasikan komponen inquery ini dikelas, guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkannya. “Kegiatan belajar mengajar perlu memberikan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip disiplin ilmu yang dipelajari.[2]
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka siklus inquery pada umumnya meliputi ; observasi (observation), bertanya (question), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering) data penyimpulan (conclusion), komponen ini dapat diterapkan pada semua bidang studi. Kata kunci dari inquery ini adalah menemukan sendiri.
3.         Questioning (bertanya)
“Siswa dilahirkan denga memiliki rasa ingin tahu yang merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritik, mandiri dan kreatif. Maka kegiatan belajar mengajar perlu memperhatikan rasa ingin tahu agar bermakna bagi siswa”.[3] Kegiatan bertanya adalah untuk memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquery, yang menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Sedangkan bagi guru, bertanya dalam proses pembelajaran dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa.
Maka dalam sebuah pembelajaran prosuktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
a.    Menggali informasi
b.    Mengecek pemahaman siswa
c.    Membangkitkan respon pada siswa
d.   Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa
e.    Mengeyahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
f.     Menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g.    Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
h.    Untuk menyegarkan lagi pengetahuan siswa
Untuk penerapan kembali di kelas, komponen ini dapat diterapkan. Hampir pada semua aktivitas belajar ; antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya. Aktivitas bertanya juga terhadi ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati dan sebagainya.
4.         Learning Community (masyarakat belajar)
Dalam kelasContextual Teaching and Learning, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu member tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap medorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera member usul dan seterusnya. Kelompok siswa bisa bervariasi bentuknya, baik melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang “ahli” ke kelas.
Model pembelajaran sebagaimana tersebut diatas dapat mendorong siswa berfikir kritis, siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas, siswa menyumbangkan buah pikirannya untuk memecahkan masalah bersama dan mengambil satu alternative jawaban atau lebih dengan seksama.[4] Hal ini mengembangkan daya pikir siswa dan kepekaan terhadap situasi kehidupan dimana ia beradu.
Cara belajar ini memungkinkan terjadinya kegiatan saling belajar, asal tidak ada fihak yang dominan dalam komunikasi, pihak yang merasa segan untuk bertanya. Semua pihak mau saling mendengar, merasa bahwa setiap orang memiliki pengetahuan, pengalaman atau ketrampilan yang berbeda dan perlu dipelajari. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang bias menjadi sumber belajar dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahaun dan ketrampilan.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, maka penerangan Learning community dalam pembelajaran di kelas bias berupa : pembentukan kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja kelompok dengan kelas diatasnya, bekerja dengan masyarakat dan sebagainya.
5.         Modeling (pemodelan)
Belajar dengan ada model yang bias ditiru dan diamati oleh siswa, hasilnya lebih melekat dalam diri siswa dan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan, misalnya pembelajaran tentang sholat, antara soswa yang diajar dengan ceramah dan mneghafalkan syarat-syarat rukunnya dengan yang langsung melihat dan meniru model yang asa, siswa yang hafal syarat eukun sholat belum dapat mengerjakan sholat dan yang meniru model sebaliknya
Hal tersebut sebagaimana dinyatakan oleh Zakiyah Darojat tentang keuntungan cara belajar ini adalah sebagai berikut :
-       Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan
-       Proses belajar siswa lebih terarah pada materi
-       Hasil pembelajaran lebih melekat pada diri siswa[5]
Pendapatan lain tentang manfaat model pembelajaran ini adalah :
-       Menambah aktivitas belajar siswa karena ia turut melakukan kegiatan modeling ini.
-       Menghemat waktu belajar di kelas
-       Menjadikan hasil belajar lebih mantab dan permanen
-       Membantu siswa dalam mengajar ketinggalan penguasaan materi, khususnya yang dipraktekkan.
-       Membangkitkan minat dan aktivitas belajar siswa
-       Memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas[6]
Adapun mengenai siapa seharusnya bertindak sebagai model ini ? jawabannya adalah bisa guru, seorang siswa, beberapa siswa, seorang ahli yang di datangkan di kelas, masyarakat dan lain-lain.
Dengan demikian, maka penerapan komponen modeling dalam kelas Contextual Teaching and Learning bisa berupa guru sebagai model member contoh tentang materi pelajaran, satu siswa dijadikan model untuk mempraktekkan materi pelajaran, beberapa orang siswa diminta untuk mendemonstrasikan suatu materi, mendatangkan orang lain/ahli sebagai model di kelas, menunjukan peta, teks berita dan lain-lain.
Kegiatan belajar mengajar menggunakan srategi pembelajaran pemodelan ini sangat penting. Siswa dapat melihat dan mendengar secara langsung wujud visualisasi materi pelajaran yang sedang ditekuni. Hal ini akan dapat menimbulkan pemahaman yang mendalam, perasaan,  keyakinan dan keinginan untuk mengamalkan atau menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupannya.
Contoh dalam pembelajaran ilmu tauhid di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah, tentang sifat-sifat Allah. Allah Maha Melihat (al-basharu), Maha Mendengar (al-sam‘u) dan Maha Mengetahui (al-‘ilmu), dengan mendemonstrasikan sekelompok siswa yang memerankan figur anak-anak bandel yang sepakat untuk mencuri mangga milik tetangga nanti malam kalau pemiliknya sudah tidur. Sementara di sisi lain ada yang memerankan figur anak shaleh atau ustadz yang mengingatkan dengan kata-kata bijaknya : « Pemilik mangga memang tidur tidak melihat dan tidak tahu, tetapi Allah selalu Melihat, Mendengar dan Mengatahui semua perbuatan kita dan akan membalasnya dengan surga kalau perbuatan itu baik dan dengan neraka kalau perbuatan itu buruk, bukankah mencuri itu perbuatan buruk, melanggar ajaran Allah ? »
Siswa melihat dan mendengar demonstrasi ini, akan dapat menumbuhkan perasaan dalam benaknya bahwa ia selalu dilihat, didengar dan diketahui oleh Allah dalam setiap perbuatannya. Pemahaman ini akan melekat dalam hati seumur hidupnya, sehingga tidak berani mencuri atau melanggar ajaran-ajaran Allah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zakiyah Daradjat yang menyimpulkan bahwa « Kepribadian anak terbentuk melalui apa saja yang didengar, dilihat dan dirasa sejak kecil »[7]
Hal tersebut juga sesuai dengan firman Allah dalam al-Quran :
¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|ÁöF{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ  
Artinya: kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.[8]
         Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah meniupkan ruh ke dalam jasad manusia sekaligus dilengkapi dengan pendengan, penglihatan dan hati atau perasaan. Ternyata dalam kehidupan manusia selanjutnya, tiga hal tersebut yang berperan penting dalam menentukan bagaimana kepribadian manusia dalam hidupnya.
        Berdasarkan petunjuk ini, maka proses belajar dan mengajar di kelas, harus disetting menjadi bahan yang bisa dilihat, didengar dan dicerna dalam hati. Termasuk dalam al ini adalah penerapan strategi pembelajaran dengan menggunakan pemodelan.
6.         Reflection (Refleksi)
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses, pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demikian, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
Dalam hal ini berarti pengetahuan itu mengendap di benak siswa, siswa mencatat apa yang sudah diperoleh dan bagaimana merasakan ide-ide baru. Hal ini selaras dengan model berfikir asosiatif, yaitu berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya. Yang merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon dan amat dipengaruhi oleh pengertian atau pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar.[9]
Untuk ini, maka dalam penerapannya guru member dorongan dan kesempatan kepada siswa pada akhir pembelajaran agar mereka melakukan refleksi. Realisasinya bisa berupa siswa menyampaikan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima, pernyataan langsung tentang pelajaran yang diperoleh hari itu, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran tertentu, diskusi, siswa menyampaikan hasil karya da lain-lain.
Salah satu contoh dari kegiatan refleksi adalah setelah belajar shalat janazah, kemudian siswa menyatakan: nanti kalau ada orang meninggal dunia, saya ikut menyatati janazahnya. Setelah belajar sifat-sifat Allah, siswa menyatakan akan taat kepada Allah selama hidupnya dan takut melanggar ajaran Allah karena selalu dilihat didengan dan diketahuiNya.
Demikian komponen refleksi ini, sangat penting ditumbuhkan pada diri siswa setiap kali usai kegiatan belajar mengajar. Hal ini membuktikan bahwa a. materi pelajaran yang diajarkan oleh guru berkaitan erat dengan dunia kehidupan siswa, b. materi pelajaran dibutuhkan dalam kehidupan siswa, c. guru mampu mengajar  berbasis kompetensi, dengan mentransfer pengetahuan atau ketrampilan yang langsung dikuasai siswa, d. siswa telah tergerak hati dan perasaannya untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
7.         Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya)
Assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahaui perkembangan belajar bahasa arab siswanya, maka yang dikumpulkan adalah data kegiatan nyata ketika para siswa menggunakan bahasa arab bukan hanya dari test saja. Inilah yang disebut data authentic. Kemajuan belajar juga sudah dinilai sejak dari proses pembelajaran, bukan melalui hasil.
Dalam penilaian authentic yang dinilai atau dikumpulkan datanya adalah pengetahuan dan sekaligus keterampilan yang diperoleh siswa, pelaksanaannya secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, maka disebut juga penilaian berbasis kelas (PBK), yang hasilnya berguna untuk :
-       Umpan balik bagi siswa dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi belajar.
-       Memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar siswa untuk pengayaan dan remidiasi.
-       Memberi masukan pada guru untuk meningkatkan program pembelajaran di kelas.
-       Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan.
-       Member informasi pada masyarakat, sehingga meningkatkan partisipasinya.[10]
Dari paparan diatas member isyarat pada para pendidik agar dapat melaksanakan penilaian dengan didukung data yang valid, reliable dan menyeluruh, sehingga hasil yang diperoleh dari penilaian ini dapat memenuhi sasaran untuk mencapai tujuan pendidikan dengan sebaik-baiknya.


[1] Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Pustaka Jaya, 1996), 106
[2] Balitbang Depdiknas, Ringkasan KBM, 2
[3] Ibid, 3
[4] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,(Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1997), 205
[5] Zakiyah Darojat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Trio Tunggal, 1984), 85
[6] Nasution S., Berbagai Pendekatan Belajar dan Mengajar, (Jakarta : Bima Aksara, 1984), 58
         [7] Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama.( Jakarta: Trio Tunggal, 1984), 96).
          [8] Al-Quran dan Terjemahnya, Surat Sajdah ayat 9.
[9] Muhibbin, Psikologi Pendidikan, 199
[10] Balitbang Depdiknas, Ringkasan Penilaian, 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar