C. Contextual Teaching and Learning Dalam Islam
Allah SWT adalah Tuhan seluruh alam semesta, segala sesuatu di alam ini
bersumber dari Allah SWT, Demikian juga ilmu pengetahuan, seluruhnya bersumber
dari Allah SWT. Allah lah yang mengajari makhluknya tentang ilmu dan segala
sesuatu, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 31-32 yang artinya :
Dan
Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka
menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana"
Manusia dan semua mkhluk tidak mengetahui apa-apa selain yang
diajarkan Allah kepada mereka. Dan Allah melengkapi mereka dengan akal pikiran
agar dapat digunakan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya yang
sudah dianugerahkan olehNya. Manusia didorong memaksimalkan penggunaan akal
untuk menyelidiki, dan mengembangkan potensi alam, ilmu pengetahuan alam dan
teknologi sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar. Rahman ayat 33 yang artinya :
Hai golongan Jin dan Manusia jika kamu sanggup
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat
menembusnya melainkan dengan kekuatan (dalam ilmu dan teknologi)
Dalam rangka menggali dan mengembangkan
IPTEK ini tidak dapat dipisahkan dengan dunia pendidikan. Untuk memproduk
sumber daya menusia yang menguasi IPTEK, dunia pendidikan senantiasa menggali
strategi pembelajaran yang produktif, antara lain yang sedang dibahas ini
adalah Contextual Teaching and Learning, bagaimanakah dasar dan
penerapan Contextual Teaching and Learning ini dalam pendidikan Islam?
Kalau berbicara tentang pendidikan islam
maka berbicara tentang pendidikan yang dimulai sejak Rasulullah SAW mendapat
wahyu yang pertama yang dilanjutkan dengan pelaksanaan pendidikan pada masa
sahabat (pengikut Nabi), tabiin
(pengikut Nabi yang hidup setelah sahabat) sampai pada pendidikan umat islam dewasa ini.
Pada masa awal pendidikan Islam, Cara
Rasulullah SAW menyampaikan materi pendidikan (Al-Qur’an dan al Hadits),
dan para sahabat menerimanya, adalah
sebagai berikut :
1.
Berangsur-angsur dalam pengajaran.
sebagaimana disampaikan Imam al-Khathib :”Dalam menanamkan aqidah yang benar,
ibadah, hukum, muamalah, akhlak yang utama serta memperkokoh iman dan dan
kesabaran secara berangsur-angsur”[1]
Hal ini disampaikan pula oleh Nuruddin
bahwa “Rasul SAW tidak menyampaikan hadits (materi pendidikan) secara beruntun,
melainkan sedikit demi sedikit agar dapat meresap dalam hati “. [2]
Penyampaian secara berangsur-angsur ini selain mudah meresap dalam hati, juga
mudah dihafal dan diamalkan.
Hal ini menjadi dasar dan sekaligus
penerapan dari komponen Contextual Teaching and Learning constructivism
: bahwa “pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya
diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.[3]
Materi pendidikan islam didominasi oleh ilmu amaliah, sehingga konteks ilmu
dengan amal sehari-hari juga dominan, dalam arti membangun pengetahuan sedikit
demi sedikit dan diterapkan dalam kehidupan nyata. Jika tidak demikian proses
pembelajarannya, maka tidak mencapai hasil yang prima.
Demikian juga kalau melihat ayat yang
pertama kali turun QS. Al Alaq ayat 1-5 yang artinya :
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan manusia
dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang maha pemurah . Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam (pen). Mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
Ayat tersebut di atas menunjukan bahwa
pertama kali islam datang, menyampaikan pesan “iqra’ = bacalah” bukan sekedar
mendengar atau melihat dan selanjutnya pesan “proses belajar mengajar dengan
baca tulis” untuk menguasai hal-hal yang belum diketahui”. Dalam hal ini
terjadi proses “mengkontruksi” melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar
mengajar. Ini adalah mengkontruksi tahap awal. Selanjutnya dikembangkan melalui
akal manusia dengan berbagai maca, pendekatan dalam belajar.
2.
Implementasi atau penerapan Ilmu
Rasulullah mengajari sahabat sampai mereka
faham maknanya, mengetahui hukumnya dan
menerapkan pada diri mereka. Sebagian sahabat ada yang mukim di sisi
Rasul SAW. Untuk mempelajari hukum islam dan ibadah. Kemudian kembali kepada
keluarga dan kaumnya untuk mengajari dan memahamkan materi- materi tersebut
kepada mereka. Sebagaimana pernah dipraktekkan oleh Malik bin Huwairith yang
mukim selama 20 hari di sisi Rasul SAW.
Kemudian beliau bersabda yang artinya :
Kembalilah pada keluargamu, ajarilah dan perintahlah
mereka dan sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat dan apabila telah
datang waktu sholat hendaklah seseorang melakukan adzan lalu yang lebih tua
hendaknya menjadi imam[4]
Dari
hadits tersebut diatas menunjukkan bahwa Rasulullah saw mengajarkan materi
pokok Islam yaitu sholat dengan cara mempraktekkan, sedangkan para sahabat
langsung melihat dan mengetahui dari Rasul SAW kemudian mempraktekkannya.[5]
Sebagaimana Rasul melaksanakan.
Hal ini
menjadi dasar penerapan komponen Contextual
Teaching and Learning inquiry (menemukan atau mengalami). Para sahabat
melalui proses observasi terhadap cara ibadah Rasul, bertanya tentang hal-hal
yang belum difahami, mengajukan dugaan dalam benaknya, mengumpulkan data dari
prilaku Rasul dan sabda-sabdanya, kemudian
menyimpulkan.
Demikian yang dilakukan oleh para sahabat
dalam proses belajar mengajar dengan Rasulullah SAW. Dalam hal menemukan sampai
dengan menerapkan dan mentransfer pada orang lain, atas bimbingan Rasul SAW.
Strategi pembelajaran ini terus diterapkan dalam pendidikan Islam
sejak zaman Rasulullah sampai sekarang, termasuk di dalam
pondok pesantren, baik di pondok pesantren yang masih tradisional, dalam arti pondok pesantren yang
tidak memiliki lembaga pendidikan formal sampai dengan pondok pesantren yang
modern sekarang ini.
3.
Bervariasi dan memperlihatkan tingkatkan yang berbeda-beda.
Rasul SAW memperhatikan tingkatan yang berbeda-beda, beliau
memperhatikan kondisi para sahabat yang
hitrogen, maka Rasul “menyampaikan
materi bervariasi, karena jika terus menerus dalam pengajaran dan pengarahan
dapat menimbulkan kebosanan dalam jiwa dan berdampak menjadi kecil daya
gunanya”[6]
Rasul Muhammad SAW memperhatikan
perbedaan kemampuan otak, bagi orang yang sangat cerdas cukup dengan isyarat,
sedangkan bagi orang yang hafalannya sangat bagus maka dengan penjelasan yang
sekilas saja sudah mengena”[7]. Dalam hal pencatatan hadits, terhadap
sahabat yang hafalannya kuat, Rasul melarang mereka menulis hadits, karena
dihawatirkan nanti tercampur dengan al-Quran. Akan tetapi terhadap sahabat yang
hafalannya lemah, Rasul mengizinkan mereka mencatat hadits atau dicatatkan oleh
sahabat lain. Dan tetap diperhatikan penyimpanannya agar tidak diragukan
tercampur dengan al-Quran.
“Setelah belajar dari Rasul,
kemudian para sahabat mengkaji isinya, ilmunya dan pengamalannya secara
bersama-sama (berdiskusi)”[8]
“para wanita bertanya pada Rasul SAW dan beliau menjawab tentang urusan
agama mereka. Hal ini sering terjadi kemudian Rasul SAW
menentukan waktu khusus bagi mereka.[9]
Pengajaran Rasul SAW tidak tergantung pada tempat yang terbatas dan kesempatan
tertentu, bahwa jika ditanya atau dimintai fatwa di jalan, beliaupun memberi
jawaban dan solusi dan dalam kesempatan apa saja yang memungkinkan.[10]
Pernyataan-pernyataan
tersebut di atas mencerminkan betapa indah pengajaran yang diterapkan oleh
Rasul SAW. Dan pada masa itu Rasulullah sudah melaksanakan pembelajaran dengan
strategi Contextual Teaching and Learning
pada komponen questioning (bertanya),
bertanya dari sahabat pada Rasul, dari sahabat kepada sahabat yang lain
termasuk di dalam diskusi. Hal ini juga diperintahkan Allah pada manusia
sebagaimana firman-Nya dalam QS. An Nahl ayat 43 yang artinya :
Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai
pengetahuan.
Demikian juga pada QS. Al Anbiya ayat 7 dengan redaksi yang sama. Hal ini juga menunjukan bahwa dalam proses belajar
mengajar harus ada proses atau pendekatan saling bertanya (questioning).
4.
Mengadakan Majlis-Majlis Pengajaran
Semua
majelis-majelis Rasul SAW adalah majlis ilmu. Rasul SAW menentukan waktu-waktu
tertentu untuk mengajari sahabat. Mereka sangat ingin menghadiri majelis
tersebut dengan sepenuh kemampuan dan perhatian. “Bahkan beberapa sahabat ada
yang aplisan/bergiliran dengan temannya untuk mengikuti majelis ta’lim
Rasulullah SAW dan menyampaikan hasilnya dari belajar itu kepada sahabat yang
diajak bergiliran karena harus bekerja mencari ma’isyah. Mereka selalu
mempelajari terhadap apa saja yang dipelajari dari Rasulullah SAW. Sampai
mereka meresapi dan hafa”[11]
Rasulullah
SAW juga mengutus sahabat untuk menyampaikan hokum dikalangan manusia. Contoh
peristiwa yang menyebabkan kelahirannya.
Hadits :
Tidak termasuk golongan golongan kami orang
yang menipu”[12]
Peristiwa-peritiwa
tersebut diatas menunjukan bahwa pendekatan pembelajaran learning community (masyarakat
belajar) telah diterapkan oleh Rasulullah SAW, kemudian lebih dikembangkan dan
ditingkatkan pada proses pendidikan dan
pengajaran hingga kini.
Dalam learning
community, pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar, agar
materi dimusyawarahkan dan dibahas bersama. Hal ini sebagai mana firman Allah
dalam QS Al-Syuro ayat 38 yang artinya :
Dan (bagi) orang-orang yang menerima
(mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarat antara mereka. (Al-Syuro : 38)
Dan dalam QS. Ali Imron ayat 159 yang artinya :
Dan bermusyawarah dengan mereka dalam
urusan ini (duniawi), kemudian apabila kamu telah membulatkan tekat, maka
bertawakallah kepada Allah. (Ali Imron : 159).
Kedua ayat tersebut member pelajaran kepada manusia supaya bermusyawarah
tentang masalah keduniaan seperti ekonomi, politik, pendidikan dan lain-lain.
Kemudian pengejawantahan dari ayat ini dalam pembelajaran di kelas adalah
berupa learning community (masyarakat belajar)
5.
Keteladanan Rasullah SAW
Dalam
mengajari dan menguasakan materi tentang sholat, puasa, haji, berpergian,
mungkin, muamalah, perjalanan hidupnya dan lain-lain, Rasulullah SAW
menyampaikan melalui pemodelan keteladanan maupun peristiwa-peristiwa dan
kejadian-kejadian yang disaksikan oleh para sahabat. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW :
(halaman 34)
Artinya :
Sholatlah sebagaimana kamu sekalian melihat
saya sholat[13]
Dan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin
Umar bahwa ia melihat Rasulullah Muhammad SAW, Abu Bakar, dan Umar berjalan di
depan jenazah.[14]
Penjelasan tersebut menunjukan bahwa Rasulullah SAW melakukan pendidikan
dan pengajaran islam dengan pendekatan komponen Contextual Teaching and Learning modeling (pemodelan). Dan memang
Rasulullah SAW dijadikan model oleh Allah untuk mendidik manusia, sebagaimana
firman-Nya dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 yang rtinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab :
21)
Yang menjadi model adalah Rasulullah Muhammad SAW. Selain beliau juga
ada model-model yang lain yaitu para sahabat khulafa ar rosyidin : Abu Bakar,
Umar, Usman, Ali. Hal ini sebagaimana perintah Rasulullah SAW dalam sabdanya :
(halaman 36)
Artinya :
Maka kamu
sekalian harus mengikuti perilaku dan perilaku Khulafa arrosyidin. [15]
6.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri
Rasulullah SAW dan dikalangan umat islam.
Jika terjadi
peristiwa tertentu pada diri Rasulullah SAW atau peristiwa tertentu yang
terjadi di kalangan umat islam, para sahabat bertanya pada Rsulullah SAW,
tentang hukum dari peristiwa tersebut. Dan Rasulullah SAW member fatwa dan
menjawab sejelas-jelasnya tentang hukum yang mereka tanyakan. Hal ini
menunjukkan adanya reflection
(refleksi) dalam proses pembelajaran.
Refleksi juga terjadi di kalangan para sahabat setelah mendapatkan
materi pelajaran (Al-Qur’an dan al Hadits) dari Rasulullah SAW dengan
mendiskusikan materi tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada
hakekatnya reflection (refleksi)
merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru
diterima oleh murid sebagaimana tersebut di atas. Para sahabat membuat
hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan
pengetahuan yang baru, untuk diamalkan atau dipraktekkan. Hal ini oleh Allah
SWT. Diisyaratkan dalam QS al Hasyir
ayat 18 yang artinya :
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
Dalam ayat ini, Allah
memerintahkan agar manusia melakukan refleksi dan sekaligus evaluasi dari
apa-apa yang sudah terjadi. Pengalaman adalah
guru yang terbaik, untuk dijadikan pelajaran perbaikan dan peningkatan
pada masa yang akan datang.
7.
Evaluasi
Dalam proses
pendidikan dan pengajaran Rasulullah SAW selalu memperhatikan kecakapan,
perilaku dan kehidupan para sahabat, dari hasil pantauan ini Rasulullah SAW
mengetahui persis sahabat yang kuat atau lemah hafalannya, yang cerdas atau
lambat daya fikirnya, sehingga Rasulullah SAW dapat menyesuaikan tingkat
pelajarannya kepada sahabat yang berbeda-beda itu.
Salah satu
contoh dalam hal ini adalah tentang penulisan hadits “Abu Said” berkata : kami
mohon izin kepada rasul untuk menulis hadits, tetapi beliau tidak mengizinkan
kami”[16]
Namun di
sisi lain diriwayatkan dari Rofii bin Khodij bahwa ia berkata “kami bertanya:
wahai Rasulullah Muhammad SAW, kami mendengar sesuatu dari engkau, apakah saya
boleh menulisnya? Beliau menjawab “tulislah dan tidak dosa”[17]
Dalam kasus ini Rasulullah SAW “melarang untuk menulis hadits pada orang yang
kuat hafalannya khawatir ada tergantungan pada tulisan, sedangkan pembolehan
menulisnya pada orang yang lemah hafalannya”[18]
Penjelasan
tersebut di atas menunjukan bahwa Rasulullah SAW telah melaksanakan authentic
essessment (penilaian yang sebenarnya) penilaian dilaksanakan selama proses
belajar dan sesudahnya berkesinambungan dan terintegrasi. Allah SWT juga
mengisyaratkan pada pendidik agar melakukan authentic assessment (penilaian
yang sebenarnya) ini, sebagaimana firman Nya dalam Al-Qur’an al Baqoroh ayat 284
yang artinya :
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam
hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan
kamu tentang perbuatanmu itu.”.
Penilaian Allah SWT bukan
hanya lahiriyah atau yang tampak atau yang bisa dilihat indikatornya saja,
tetapi menyangkut aspek batiniyah, hal yang tersembunyi, hal yang tidak bisa
dilihat oleh mata manusia tidak bisa didengar oleh telinga manusia, tidak bisa
dilihat oleh mata authentic.
Dari seluruh penjelasan tentang Contextual Teaching
and Learning dalam islam di atas dapat diketahui bahwa sumber ajaran islam
baik Al-Qur’an maupun al Hadits telah mengajarkan agar dalam proses pendidikan
dan pengajaran menerapkan Contextual Teaching and Learning agar tujuan
pendidikan islam dapat tercapai dengan sebaik-baiknya yaitu insane kamil. Namun
dalam perjalanan dan perkembangan pendidikan islam hingga masa kini, ada yang
tetap melaksanakan strategi pendekatan islam hingga masa kini, ada yang tetap
melaksanakan strategi pendekatan belajar mengajar sebagaimana yang diterapkan
oleh Rasulullah SAW yang sarat dengan penerapan komponen Contextual Teaching
and Learning tersebut ditambah dengan teori-teori modern sebagai
penyempurnaannya. Ada pula yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi serta
sarana prasarana yang ada, sehingga belum menerapkan apa yang disebut dengan Contextual
Teaching and Learning tersebut ditambah dengan teori-teori modern sebagai
penyempurnaannya. Ada pula yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi serta
sarana prasarana yang ada, sehingga belum menerapkan apa yang disebut dengan Contextual
Teaching and Learning tersebut. Hal ini akan berpengaruh dan berakhibat
pada kwalitas lulusan sekolah.
[1] Muhammad
Ajaj al Khotib, Ushul al Hadih Ulumuhu Wamus- tholahuhu (Beirut : Dar al
Fikr 1981), 57
assalamualaikum ukh bagus ada ayat pendukungnya ,izin kopas ya ukti
BalasHapus