CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING 2


B. Pengertian Contextual Teaching and Learning
Pengertian Contextual Teaching and Learning  menurut bahasa berasal dari bahasa Ingris : Contextual berarti yang berhubungan, termasuk, tergantung[1], Teaching berarti mengajar, pengajaran, pelajaran[2], Learning berarti belajar, ilmu pengetahuan, kearifan, pelajaran [3]. Dari pengertian menurut bahasa tersebut mengajar yang berhubungan (dengan kenyataan).
Sedangkan pengertian menurut istilah pembelajaran Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Pengertian Contextual Teaching and Learning tersebut memberi isyarat bahwa belajar bukan untuk sekedar mengembangkan ilmu pengetahuan saja tetapi untuk mempersiapkan siswa meraih kesuksesan dalam kehidupannya dimasa depan. Untuk itu, maka dalam proses belajar mengajar senantiasa mengaitkan dengan kehidupan nyata dan lebih mengajtifkan siswa. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai rangkaian fakta-fakta yang harus dihafal, kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama ilmu pengetahuan, ceramah menjadi pilihan utama strategi pembelajaran.
Dalam rangka mengaktifkan dan lebih memberdayakan siswa, maka mutlak diperlukan adanya perubahan startegi belajar yang tidak hanya mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi juga mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dengan strategi Contextual Teaching and Learning, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghafal”. Siswa belajar dan mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahaun, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu.
Di dalam proses belajar mengajar, strategi Contextual Teaching and Learning mengharuskan siswa untuk tahu makna belajar dan menggunakan pengetahaun dan ketrampilan yang diperolehnya untuk mencocokan masalah dalam kehidupannya. Tugas guru mengatur strategi belajar membantu mengambangkan pengetahuan lama dan baru menfasilitasi belajar.
Untuk mengetahui efektifitas penerapan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran ilmu agama dan umum di pondok pesantren Haidayatullah ini, maka dibuktikan dulu penerapan komponen Contextual Teaching and Learning ini oleh guru, kemudian membuktikan hasil prestasi belajar santri melalui test, karena melalui test ini merupakan indikator yang bisa dilihat dengan mudah keberhasilan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh santri. (Lihat desain analisa pada bab III)
Dalam penerapannya Contextual Teaching and Learning ini melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yakni Constructive, Questioning techniques, The inquiry approach, Learning communities, Modeling, Reflection, and Authentic asseement[5]
Constructivsm (Konstruktivisme) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan Contextual Teaching and Learning, yaitu bahwa pengetahaun dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperkuat melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan melalui pengalaman nyata. Sebagaimana apa yang disampaiakan oleh Zahorik :
Knowledge in constructed by humans, knowlagde is not a set of fact, concepts, or laws waiting to be discovered. It is not something that exists independent of a knower. Human creates or construct knowledge as they attempt to bring meaning to their experiences, everything that we know, we have made.[6]
Yang dimaksud adalah bahwa pengetahuan bukanlah seperangkat fakta dan konsep yang siap diterima, tetapi sesuatu yang harus dikontruksikan sendiri oleh siswa sedikit demi sedikit melalui materi pelajaran yang diperoleh secara bertahap.
 Sedangkan komponen Contextual Teaching and Learning questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning. Semua ilmu pengetahaun yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya atau ingin tahu. Sebelum bisa membaa Al-Qur’an, seseorang bertanya bagaimana caranya membaca Al-Qur’an.
Salah satu faktor psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar adalah adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.[7] Maka komponen ini harus dikembangkan dalam pembelajaran di kelas.
Adapun inquiry atau menemukan, merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning, pengetahaun dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam prinsip-prinsip belajar disebutkan antara lain :
Keaktifan belajar hanya mungkin terjadi apabila siswa aktif mengalami sendiri. Belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Siswa terlibat langsung, ,mengamati, menghayati dan terlibat langsung perbuatan serta bertanggung jawab terhadap hasilnya, guru sekedar pembimbing dan pengarah.[8]
Dengan siswa mengalami sendiri dan menemukan sendiri ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ditransfer kepada mereka, maka akan lebih mudah untuk diterapkan dalam kehidupannya dan membekas dalam jiwa selama-lamanya. Hal ini sesuai pula dengan teori belajar “Discovery Learning” yaitu “suatu cara belajar, dimana murid mengkoordinir sendiri bahan-bahan yang dipelajarinya untuk menemukan suatu bentuk akhir yang dikehendakinya”.[9]
Learning Community (masyarakat belajar) juga  merupakan salah satu komponen dari Contextual Teaching and Learning, konsepnya adalah “menyarankan agar pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain”.[10] Ketika seorang anak belum tahu bunyi bacaan tahmid, ia bertanya kepada temannya “bagaimana bunyi bacaan tahmid ?” lalu temannta yang sudah tahu mengucapkan al hamdulillah, maka dua anak ini sudah membentuk masyarakat belajar (Lenarning Commnunity). Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antara teman, antar kelompok dan antara yang tahu pada yang belum tahu.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajari muridnya bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru kearah siswa. Dalam masyarakat belajar dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar, saling memberi informasi yang diperlukan oleh teman belajarnya.
Hal tersebut diatas sesuai pula dengan pernyataan bahwa ”siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasan dengan siswa lain atau guru”.[11] Ini menunjukan bahwa menciptakan masyarakat belajar sangat diperlukan dalam proses pembelajaran produktif dan kontekstual.
Komponen Contextual Teaching and Learning selanjutnya adalah modeling (pemodelan), maksudnya dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa.[12] Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melakukan shalat, cara melafadzkan huruf atau bacaan, contoh karya tulis dan sebagainya, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu, dengan begitu guru menjadi model.
Dalam hal pemodelan ini, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan seorang siswa atau beberapa siswa untuk mendemonstrasikan sesuatu materi. Model juga dapat didatangkan dari luar, seorang ahli dalam bidangnya. Siswa dapat menjadikan model ini sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapainya.
Kemudian komponen Contextual Teaching and Learning berikutnya adalah reflection (refleksi). Refleksi juga bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. [13] siswa mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.
Dengan kata lain refleksi adalah merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung “kalau begitu selama ini saya tidak menutup aurat ini salah ya ! mestinya saya harus menutup aurat agar tergolong hamba yang taat pada Allah SWT.
Adapun komponen Contextual Teaching and Learning yang terakhir adalah authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Hal ini perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa tersebut terlepas dari kemacetan dalam belajar.
Oleh karena itu gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka pelaksanaan penilaian atau assessment tidak dilakukan di akhir periode (cawu/semester), tetapi dilakukan bersamaan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Dengan kata lain “penilaian dilaksanakan terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis  kelas) melalui keaktifan belajar di kelas, pengumpulan lembar kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance) dan test tertulis (paper and pen)”.[14]
Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa authentic assessment ini penilaiannya meliputi aspek-aspek knowledge (pengetahuan), skill (ketrampilan) dan attitude (sikap tingkah laku) selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.


[1] Markus Willy dkk, Kamus 90 Juta Inggris Indonesia, Indonesia Inggris, (Surabaya : Arkola, 1996), 63
[2] Wajowasito, Kamus, 410
[3]Ibid, 212
[4]Nurhadi, Contextual Teaching and Learning, 5

[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Second Junior Secondary Education Project, Contextual Teaching and Learning. (Jakarta, Sagric International, 2002), 4
[6] Zahorik, John A. Constructivist Teaching, (Fash Back : 1995), 390
[7] Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, (Surabaya : Karya Abditama, 1994), 54
[8] Dimayanti dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta, Rineka Cipta, 1999), 48
[9] Tajab, Ilmu Jiwa, 77
[10] Nurhadi, Contextual Teaching and Learning, 13
[11] Balitbang Dediknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi Ringkasan KBM, (Jakarta: blitbang@cbn,net,id, 2002), 2
[12] Nurhadi, Contextual Teaching and Learning, 15
[13] Ibid, 16
[14] Balitbang Dediknas, Ringkasan Kurikulum dan Hasil Belajar, 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar